Padang (Departemen Ilmu Sejarah FIB UNAND) – Kamis, 18 Mei 2023 Fakultas Ilmu Budaya baru saja mengadakan Kuliah Umum bertemakan “Suara dan Gambar Mekanik Signifikasi Sosio-Budaya Media (Sosial) Baru dalam Masyarkat Indonesia”. Acara ini dimulai pada pukul 13.30 dilaksanakan secara daring via Zoom. Dihadiri oleh Rektor Unand Prof. Dr. Yuliandri, M.H., Dekan FIB Unand Prof. Dr. Herwandi, M.Hum, Wakil Dekan 1 Dr. Ike Revita, M. Hum., Dosen, dan diikuti Mahasiswa, dan Umum.

Acara ini merupakan bagian dari pengembangan World Class University (WCU) dan Program Peningkatan Tridharma Berstandar Internasional Unand di Fakultas Ilmu Budaya. Hal ini disampaikan oleh Dekan FIB Unand Prof Dr. Herwandi, M.Hum. Sebelumnya FIB telah mendatangkan dosen internasional untuk menjadi dosen tamu dalam beberapa kuliah umum dan juga akan kedatangan dosen internasional lainnya untuk mengisi kuliah umum berbagai tema kebudayaan. Pada kesempatan kali ini Kamis 18/05/2023 menghadirkan Dr. Suryadi, MA. Dosen Universitas Leiden.

Rektor Unand Prof. Dr. Yuliandri, M.H. membuka acara ini dan memberikan kata sambutan. Rektor Unand berharap bahwa “Kuliah umum dengan tema ini (“Suara dan Gambar Mekanik Signifikasi Sosio-Budaya Media (Sosial) Baru dalam Masyarkat Indonesia”) dapat mengembangkan inovasi-inovasi kedepan untuk menghadapi tantangantantangan di masa depan dalam bidang sosial budaya.”

Kuliah umum ini dimoderatori oleh Dr. Sudarmoko, MA. Dosen Departemen Sastra Minangkabau. Suara dan Mekanik menarik dikaji dalam kajian-kajian budaya, sejarah dengan adanya kasus-kasus suara yang terjadi bertebaran di sosial media maupun berita dan mendapatkan berbagai reaksi di berbagai platform media misalnya kasus protes orang asing di bali yang terganggu dengan suara adzan.

Pemateri Dr. Suryadi, MA. yang juga merupakan alumni FIB Unand membicarakan mengenai technology of listening dan technology of watching akibat produksi dan konsumsi suara dan gambar mekanik yang kian masif dan signifikasi budaya akibat domestikasi produk budaya digital di Indonesia. Suara yang belum di mediasi dianggap sebagai suara alamiah. Namun, ketika direpresentasikan melalui tekhnologi mulai dari phonograph atau gramophone akhir abad 19 sampai hari ini yang mengkombinasikan sound image dan visual image seperti instagram, facebook dan lain sebagainya dianggap sebagai suara mekanik. Suara mekanik yang muncul dengan suara mekanik tidak lagi muncul dengan suara yang netral, tidak punya face interest atau sesuatu yang lain. Suara yang dimekanisasi mengandung nilai ekonomi, sosial, kapitalisme dan sebagainya.

Menurut Dr. Suryadi, MA. “Sejarah modernisasi yang dibawa oleh kebudayaan barat, sering hanya dilihat dari perang dan teknologi senjata berpengaruh terhadap nasionalisme kita, tapi kita lupa bahwa sebenarnya tidak kurang berpengaruhnya dibawa oleh teknologi komunikasi dan sebagainya yang mempegaruhi kita misalnya sound recording teknologi sepeda, mesin jahit dan lainnya. Dalam perspektif kajian sejarah sosial kurang mendapatkan perhatian, namun akhir-akhir ini mulai mendapatkan perhatian sejarawan dan secara akademik.” Lebih lanjut pengalaman kehidupan sehari-hari semakin dimediasi oleh banyak suara yang direproduksi secara mekanis. Suara membuat kita memikirkan kembali pada makna, sifat dan pengalaman sosial, pengalaman relasional, hubungan dengan komunitas maupun dengan kekuasaan.

Aspek kemodernnan yang dibawa suara mekanik berpengaruh terhadap perubahan masyarakat, misalnya berpengaruh pada kehidupan masyarakat Indonesia khususnya islam. Misalnya dalam teknologi baru phonograph Alquran yang merepresentasikan Alquran yang dibuat “orang kafir” yang menimbulkan kegelisahan pada masyarakat melayu abad 20. Dalam hal ini fatwa dari Sayyid Abdallah al-Zawawi (Melaka) tahun 1908.

Dr. Suryadi, MA juga menyinggung mengenai kamera digital berpengaruh terhadap masyarakat baik secara positif dan negatif. Kamera dalam hal positif penting digunakan untuk pendokumentasian sejarah, penelitian ilmiah, dan dapat digunakan sebagai penyaluran hobi dan pekerjaan. Secara negatif terkadang kamera meninggalkan detail pada suatu momen yang ingin diabadikan, kamera tidak merepresentasikan gambar secara akurat bahkan dapat mendramatisasi realitas. Representasi kebudayaan-kebudayaan dapat dilihat dari berbagai platform media social seperti facebook, tiktok, instagram dan lainnya.

Dr. Suryadi, MA memberikan case sudy mengenai representasi baru agama dalam sosial media. Misalnya perdebatan mengenai digital Quran, penggunaan kamera untuk selfie di Mekah Masjidil Haram. Sebagai penutup dalam presentasi materi kuliah umum ini menurutnya “Dengan keberadaan FIB misalnya dapat mengembangkan Culture Studies dan The Study Media Culture dan sebagainya. Jika bisa saling terhubung dengan akademik internasional dan dapat dipublikasikan dalam jurnal-jurnal internasional.”

Selanjutnya, acara kuliah umum ini juga memberikan ruang diskusi bersama narasumber Dr. Suryadi, MA. dan moderator Dr. Sudarmoko, M.A. Peserta kuliah umum cukup aktif dalam sesi diskusi. Beberapa perspektif baru, dan ide-ide penelitian mengenai suara dan gambar mekanik didiskusikan pada sesi ini.

Pada penutup acara kuliah umum Prof. Dr. Herwandi memberikan kata penutup. Bahwa harapannya pogram studi dapat mengembangkan kurikulum-kurikulum yang mendukung pada penelitian-penelitian mengenai kasus-kasus dan diskusi yang telah dipaparkan oleh Dr. Suryadi, MA. Selain itu, FIB ataupun Unand sebagai Center of big data tentang Kebudayaan.

 

 

Reporter: Yeny Dwi lestari