Saya merasa sangat senang dengan pelaksanaan kuliah umum hari ini. Acara ini diikuti tidak hanya oleh mahasiswa Strata 1, tetapi juga mahasiswa pascasarjana serta para dosen pengampu mata kuliah yang sebagian besar juga merupakan rekan saya. Bagi saya, ini bukan sekadar kesempatan untuk berbagi ilmu, tetapi juga ajang bersilaturahmi dengan civitas akademika Ilmu Sejarah Universitas Andalas. Saya sangat menikmati suasana kuliah yang dilakukan secara luring seperti ini, karena pertemuan tatap muka selalu menghadirkan interaksi yang lebih hidup.
Respons mahasiswa luar biasa. Meskipun waktu penyampaian materi cukup terbatas, saya melihat antusiasme yang tinggi dan kemampuan mereka memahami gagasan tentang sejarah visual. Diskusi yang muncul membuktikan bahwa topik ini membuka ruang berpikir baru bagi mereka. Saya berharap semangat ini bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat terhadap kajian sejarah visual di lingkungan kampus.
Tema kuliah umum kali ini, Mata Sejarah: Rekonstruksi Sejarah Melalui Sumber Visual, sangat relevan dengan perkembangan zaman. Bahkan bisa saya katakan, ini seharusnya sudah diangkat sejak beberapa tahun lalu. Di era digital sekarang, sumber tertulis bukan lagi satu- satunya rujukan utama. Kita sudah memasuki pergeseran dari paper culture ke digital culture, di mana sumber visual mendominasi. Karena itu, sejarawan perlu beradaptasi dan mampu memanfaatkan sumber-sumber visual yang kini membanjiri ruang digital

Padang, 30 Oktober 2025- Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas menggelar kegiatan kuliah umum dengan tema “ Mata Sejarah: Rekonstruksi Sejarah Melalui Sumber Visual”, pada kamis 30 Oktober 2025. Kuliah umum ini merupakan salah satu agenda besar Departemen Ilmu Sejarah yang telah direncanakan sejak lama.
Kuliah umum kali ini menghadirkan Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra yang merupakan guru besar Universitas Padjajaran sebagai narasumber. Antusiasme terlihat dari mahasiswa beserta para dosen, memenuhi Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas sejak jam 8.00 WIB untuk mengikuti kegiatan ini.
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC formal dan penampilan tari Pasambahan dari grup tari Langkah Seayun. Tarian ini menjadi momen penting karena merupakan penampilan perdana grup tari yang dibentuk oleh mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah. Kehadiran dari grup tari Langkah Seayun menjadi kebanggaan tersendiri bagi Departemen Ilmu Sejarah, karena untuk pertama kalinya mahasiswa dari Departemen ini menunjukkan penampilan seni sebagai bagian dari kegiatan akademik. Penampilan mereka yang penuh semangat dan seayun berhasil memukau para peserta dan dosen yang hadir.
Setelah penampilan tari berakhir, dilanjutkan dengan pembacaan doa dan penyampaian kata sambutan oleh Kepala Departemen Ilmu Sejarah Dr. Zulqaiyyim ,, M. Hum serta dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof. Dr. Ike Revita ,, M. Hum. Setelahnya pemberian kenang-kenangan berupa buku-buku karya Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra kepada Fakultas Ilmu Budaya serta pemberian plakat dan cendramata kepada Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra.
Setelah rangkaian acara formal berakhir, dilanjutkan dengan penyampaian materi kuliah oleh Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra yang dipandu oleh moderator Dr. Harry Efendi ,, M. Hum. Suasana kuliah umum berjalan dengan kondusif. Mahasiswa tampak banyak mencatat materi kuliah umum ini dan memotret slide ppt yang ditampilkan.
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa sumber-sumber visual sangat penting untuk diketahui dan dipelajari dalam sejarah. Mata sejarah yang merupakan tema kuliah umum ini tidak hanya melihat sumber tertulis, tetapi juga melalui sumber visual. Beliau juga menekankan dengan menggunakan sumber visual dapat melahirkan sejarah dari lapis bawah. Di mana sumber visual memiliki kedalaman yang lebih unggul dari sumber tertulis.
Setelah pemaparan materi selesai dijelaskan oleh narasumber, dibuka sesi diskusi aktif. Tampak para peserta antusias mengajukan pertanyaan mengenai penggunaan sumber visual dalam sejarah, selain itu beberapa dosen juga turut aktif memberikan pertanyaan dan tanggapannya. Salah satu momen menarik ialah pada saat guru besar Universitas Andalas Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, turut memberikan pandangannya mengenai penggunaan sumber visual. Tanggapan beliau semakin membuat aktif jalannya diskusi dan memperlihatkan tingginya antusiasme peserta dan para dosen terkait tema kuliah umum ini.
Setelah sesi diskusi berakhir acara ditutup dengan dokumentasi bersama dengan para peserta kuliah umum. Kegiatan berlangsung hingga pukul 12.00 WIB. Melalui kegiatan kuliah umum ini, Departemen Ilmu Sejarah Unand berharap akan ada nantinya hasil karya akhir mahasiswa yang tidak hanya dalam bentuk tulisan tetapi juga terdapat dalam bentuk visual.

Padang, 17 Oktober 2025- Kegiatan Workshop Sosialisasi Kurikulum Merdeka dalam Pikiran: Literasi Sebagai Gerakan Akademik” yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas berlanjut pada hari ke dua dengan tema “Literasi Informasi dan Klinik Sitasi” di ruang sidang Ilmu Sejarah mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB dan diikuti oleh peserta terdaftar yang telah melakukan konfirmasi kepada panitia.
Acara dibuka oleh Mc formal dan dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan oleh Kepala Departemen Ilmu Sejarah Dr. Zulqaiyyim., M.Hum yang menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana pengembangan kurikulum yang lebih efisien. “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tempat untuk menggali sebanyak mungkin pertanyaan dan ide. Efisiensi kurikulum yang kita maksud tidak hanya berfokus pada hasil seperti skripsi tetapi dapat membuka hasil laporan akhir lain seperti gambar, media visual, dan bentuk kreatif lainnya,” jelasnya.
Selanjutnya, kegiatan diisi oleh pemateri yaitu Hanif Risa Mustafa, S.Pd., M.A, yang membawakan materi mengenai “Etika Penulisan dan Penghindaran Plagiarisme Melalui Sitasi yang Benar”. Dalam pemaparannya, pemateri menjelaskan bahwa pentingnya integritas akademik sebagai dasar dalam penulisan ilmiah. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, orisinilitas, keadilan, dan penghargaan terhadap karya orang lain menjadi dasar utama dalam dunia akademik.
Selain itu, pemateri juga memaparkan berbagai bentuk plagiarisme yang banyak terjadi tanpa kita sadari, seperti patchwriting, mosaic plagiarism, dan self-plagiarism, baik disengaja maupun tidak disengaja, tetap merupakan pelanggaran serius terhadap etika akademik.
Pemateri juga menyoroti pentingnya kemampuan melakukan parafrase, ringkasan, dan kutipan langsung dengan benar untuk menghindari adanya plagiarisme. Beliau juga memperkenalkan alat bantu digital seperti Turnitin, Grammarly Plagiarism Checker, Mendeley, dan Zetero untuk membantu mahasiswa dalam mengelola referensi dan pemeriksaan keaslian karya tulis ilmiah.
Pada bagian akhir materi membahas mengenai etika pengutipan dan penulisan daftar pustaka, termasuk penggunaan gaya sitasi internasional seperti APA, MLA, Vancouver, Harvard, Chicago Style. Narasumber turut menjelaskan perbedaan istilah mengenai ibid., op.cit., dan Loc.cit dalam sistem catatan kaki.
Sesi terakhir dilanjutkan dengan praktek, yang mana peserta berlatih langsung menggunakan Mendeley dan Zetero di laptop masing-masing. Pemateri juga turut aktif memeriksa kesiapan masing-masing peserta yang mengikuti pelatihan ini. Sesi ini berlangsung secara interaktif, peserta mempraktikkan cara menggunakan Mendeley dan Zetero di laptop masing-masing.
Workshop hari ke dua ditutup dengan sesi penyerahan plakat oleh Kepala Departemen Ilmu Sejarah kepada pemateri, lalu penutupan oleh Mc formal, dan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami pentingnya etika dalam menulis, dan keterampilan sitasi yang benar.

Padang, 16 Oktober 2025- Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Andalas, menggelar kegiatan “Workshop Sosialisasi Kurikulum Merdeka Dalam Pikiran: Literasi Sebagai Gerakan Akademik”, yang mana dilakukan selama dua hari berturut-turut. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Departemen Ilmu sejarah untuk mendorong kreativitas mahasiswa dalam menulis di lingkungan kampus.
Hari pertama workshop diisi dengan kegiatan seminar yang bertemakan “Menulis Kreatif sebagai Gerakan Literasi,” yang berlangsung di ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya mulai pukul 13.30 hingga 16.30 WIB. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Mc Formal, lalu pemberian kata sambutan oleh Kepala Departemen Ilmu Sejarah Dr. Zulqaiyyim,, M. Hum, dan kemudian dibuka secara langsung oleh Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Budaya Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D yang dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh mahasiswa yang mengikutinya.
Kegiatan hari pertama diisi dengan seminar yang terbagi menjadi dua sesi utama. Pada sesi 1 mengusung tema “Menulis Sebagai Ekspresi Diri dan Akademik”, yang mana materi ini disampaikan oleh Fadli salah satu mahasiswa Magister Universitas Andalas yang aktif menulis dan karyanya telah banyak dipublish di media. Dalam penyampaiannya, Fadli mengajak mahasiswa untuk berani menulis hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka. “Menulis bisa dimulai dari yang paling dekat, misalnya opini tentang perkuliahan, lingkungan akademik, atau bahkan dinamika sosial di sekitar kos dan tempat nongkrong mahasiswa”, jelasnya.
Diskusi pada sesi 1 ini berlangsung lancar dengan beberapa tanggapan dan pertanyaan dari mahasiswa serta dosen termasuk Kepala Departemen Ilmu Sejarah yang turut bertanya dan memberikan tanggapannya.
Setelah sesi 1 berakhir, seminar dilanjutkan ke sesi 2 dengan pemateri yaitu M. Nurul Fajri, S.H., M.H., yang membawakan tema diskusi mengenai “Menulis Kreatif untuk Karya Ilmiah.” Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam dunia menulis saat ini ialah transformasi media. Di mana alat dan penyebaran tulisan saat itu telah berubah ke media sosial, namun baginya tulisan yang berbasis paper atau kertas tetap menjadi bentuk paling awet dalam jangka waktu panjang. “Tantangan paling besar dalam menulis adalah memastikan tulisan kita sampai kepada pembaca. Maka dari itu, menulis harus dilatih agar menjadi kebiasaan. Dalam era saat ini, menulis ilmiah populer bisa menjadi jalan alternatif yang tepat antara akademik dan publik,” jelasnya.
Beliau juga menyoroti bahwa dalam dunia akademik saat ini muncul berbagai tantangan dalam menulis, yaitu sensitivitas, konsistensi, keberanian menentukan dan mengambil sikap, serta fenomena pseudo akademik. Maka dari itu, mahasiswa diharapkan menulis dengan kesadaran kritis dan tanggung jawab ilmiah.
Sesi diskusi yang dipandu oleh moderator berlangsung lancar dan aktif. Peserta seminar antusias mengajukan pertanyaan seputar tema yang dibahas.
Pada seminar kali ini, peserta yang hadir didominasi oleh mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2022 dan 2023, serta beberapa dosen dari Fakultas Ilmu Budaya dan fakultas lainnya di lingkungan Universitas Andalas. Sekitar 75 peserta memenuhi ruang seminar Fakultas Ilmu Budaya.
Setelah pemaparan sesi 2 selesai, kegiatan hari pertama ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh moderator, dan penyerahan plakat kepada pemateri, serta penutupan oleh mc formal. Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama peserta, panitia, dan pemateri. Kegiatan yang telah terlaksana ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menumbuhkan semangat menulis sebagai bagian dari gerakan akademik.
Kegiatan workshop ini akan berlanjut pada hari kedua, Jum’at, 17 Oktober 2025 dengan tema “ Literasi Informasi dan Klinik Sitasi.”

Padang, 16 September 2025- Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, tampak ramai di sore hari saat mahasiswa menghadiri kuliah tamu. Sekitar 150 lebih mahasiswa hadir dan beberapa dosen Ilmu Sejarah turut hadir dalam kuliah tamu yang dilaksanakan mulai pukul 16.00-18.00 WIB.
Kuliah tamu kali ini menghadirkan Prof. Dr. Bambang Purwanto dari Universitas Gadjah Mada yang membahas mengenai "kekerasan yang terjadi pada tahun 1945 dan masalah metodologi sejarah". Mahasiswa yang datang serius mendengarkan setiap materi yang disampaikan, sebagian ada yang menulis materi kuliah untuk keperluan tugas.
Acara dibuka dengan sambutan singkat dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof. Dr. Ike Revita,
M. Hum, yang menekankan pentingnya menghadirkan narasumber dari universitas lain untuk lebih memperkaya wawasan mahasiswa sejarah. Selama kuliah berlangsung, Prof. Bambang Purwanto menyampaikan materi secara rinci dan konstekstual, menjelaskan mengenai kekerasan apa yang terjadi pada tahun 1945, budaya populer, dan masalah dalam metodologi sejarah.
Suasana kuliah tamu berjalan dengan kondusif. Mahasiswa terlihat fokus mendengarkan, mencatat, dan beberapa ada yang memotret slide ppt sebagai referensi tambahan. Interaksi antara narasumber dan mahasiswa terjadi dalam bentuk sesi pertanyaan dan mahasiswa yang hadir antusias bertanya. Pihak panitia juga terlihat sigap memastikan kelancaran jalannya acara, koordinasi tempat duduk, dan pembagian snack bagi peserta kuliah tamu.
Kuliah tamu berakhir tepat waktu, pukul 18.00 WIB. Acara ini menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk mendapatkan tambahan perspektif akademis secara langsung dari pakar sejarah, sekaligua juga menambah pemahaman mengenai kekerasan yang terjadi pada tahun 1945 dan hubungannya dengan metodologi sejarah.

Bagaimana rasanya hidup dalam dunia politik yang penuh lika-liku, berpindah dari satu bendera ke bendera lain, mencari tempat bernaung di tengah arus kekuasaan yang berubah-ubah? Bagi sebagian politisi, langkah ini adalah jalan bertahan hidup, sekaligus cara untuk tetap relevan dalam iklim politik yang dinamis.
Di era sekarang ini, politisi kutu loncat menjadi fenomena yang akrab, di mana perpindahan partai seolah menjadi taktik untuk mencari perahu besar. Namun fenomena politisi kutu loncat ternyata bukanlah hal yang baru. Seorang politisi Sumatera Barat di pertengahan abad ke-20 juga sudah menjalankan seni bertahan hidup ini.
Dia adalah R. Dt. Bagindo Basa Nan Kuniang (DBBNK). Pada Seminar Nasional PPSI 2024 lalu, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan mengangkat DBBNK sebagai refleksi kehidupan politik saat ini. Prof Gusti menyoroti bagaimana pergerakan DBBNK di panggung politik yang tidak selalu berbuah manis, dan akhirnya berujung pada kesendirian DBBNK.
“Bukan hanya soal berpindah-pindah partai, melainkan upaya bertahan di tengah keterbatasan dan dinamika politik yang sangat keras,” ungkap Asnan, Selasa 22 Oktober 2024.
Menurut Prof Gusti, nama R. Dt. Bagindo Basa Nan Kuniang (DBBNK) sudah asing di telinga masyarakat. Padahal DBBNK adalah seorang politisi yang terkenal karena keaktifannya dalam politik Sumatera Barat dan nasional di berbagai periode, namun nama DBBNK perlahan menghilang dari catatan sejarah.
Prof Gusti menjelaskan, DBBNK lahir pada tahun 1912 di Bimba, Nagari Andaleh, Sumatera Barat. Sejak usia muda, DBBNK sudah menjalani berbagai macam perantauan, baik fisik maupun politik. Ia bekerja di berbagai perusahaan hingga memutuskan berhenti, lantaran tidak tahan melihat penindasan kolonial terhadap bangsa sendiri. DBBNK pun kembali ke kampung halaman dan memilih jalan politik yang pada saat itu dipenuhi dengan idealisme dan semangat perubahan.
Di masa muda, kata Prof Gusti, DBBNK sudah bergabung dengan berbagai partai politik, mulai dari Serikat Islam (SI), Partai Nasional Indonesia (PNI), hingga akhirnya menjadi pengurus di organisasi adat Minangkabau yang sangat berpengaruh, yakni Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM). Namun, tidak lama kemudian, DBBNK bergabung dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), sebelum akhirnya kembali ke MTKAAM pascakemerdekaan. Seiring waktu, DBBNK semakin intens terlibat dalam pergerakan yang mengadvokasi hak-hak daerah dan mengkritik kebijakan pusat yang dianggapnya tidak berpihak pada daerah.
Perjalanan DBBNK tidak berhenti di situ, jelas Prof Gusti, DBBNK terlibat dalam berbagai kongres adat yang bertujuan untuk memperjuangkan otonomi daerah dan bahkan menuntut pemerintah pusat untuk mengakui tindakan-tindakan daerah sebagai bagian dari hak daerah.
“DBBNK juga dengan berani menentang kebijakan yang ia anggap tidak sesuai dengan kepentingan Sumatera Barat, salah satunya, saat pemerintah menghapuskan sistem Nagari melalui Peraturan Daerah tahun 1950,” tegas Prof Gusti.
Di pertengahan dekade 1950-an, beber Prof Gusti, DBBNK menjadi tokoh yang kerap muncul dalam peristiwa-peristiwa politik besar di Sumatera Barat. Bahkan dalam era Dewan Banteng dan di masa gejolak daerah terhadap pusat, DBBNK merupakan satu di antara tokoh yang mendukung gerakan daerah ini.
“Tapi ketika PRRI diproklamasikan, DBBNK justru berbalik memihak pemerintah pusat, bahkan menjadi penasihat militer yang memerangi pemberontakan PRRI,” kekeh Prof Gusti di hadapan peserta seminar.
"Dia adalah politisi yang kompleks, bisa berganti warna, tetapi tetap memiliki pandangan bahwa apa yang ia lakukan adalah demi kemaslahatan masyarakat," imbuh Prof Gusti.
Prof Gusti melihat sifat kutu loncat DBBNK sebagai bagian dari karakteristiknya yang menonjol. Sepanjang perjalanan hidupnya, DBBNK berpindah-pindah bendera politik dan kerap menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi politik yang ada.
“Tak heran jika ia sering mendapat julukan sebagai politisi bunglon. Tapi ini tidak bisa dihakimi, ini bisa jadi cerminan bagaimana seorang politisi harus beradaptasi agar tetap relevan dalam setiap perubahan zaman,” beber Prof Gusti.
Prof Gusti pun menuturkan, akhir kiprah politik DBBNK tidak berbuah manis. Setelah kejatuhan Presiden Sukarno, rezim Orde Baru yang berkuasa mulai menyingkirkan pengaruh politik lama, dan DBBNK tidak luput dari pembersihan tersebut.
Kata Prof Gusti, DBBNK kemudian pindah ke Jakarta dan hidup dalam pengasingan secara tidak langsung. Dituduh sebagai pendukung PKI dan bunglon politik. DBBNK melaporkan diri ke Polisi Militer dan akhirnya ditahan tanpa proses pengadilan selama bertahun-tahun. DBBNK dibebaskan pada tahun 1978, namun mengalami masa-masa sulit dan hidup dalam pengasingan hingga wafat pada tahun 1981.
Prof Gusti pun menekankan bahwa kisah hidup DBBNK bisa dijadikan bahan refleksi, khususnya bagi generasi politisi saat ini. Menurutnya, DBBNK adalah contoh dari bagaimana seorang politisi dapat bertahan di tengah tekanan politik dengan beradaptasi dan berinovasi, meski harus membayar harga yang mahal di akhir hidupnya.
"Pada era ini, kita cenderung melabeli politisi masa lalu sebagai sosok yang idealis dan berintegritas tinggi, sementara politisi masa kini dianggap oportunis dan pragmatis," tutup Prof Gusti. (*)

Padang – Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas sukses menjadi tuan rumah dalam gelaran seminar nasional dan rapat kerja PPSI (Perkumpulan Prodi Sejarah se-Indonesia) 2024.
Gelaran ini berlangsung selama dua hari di Convention Hall Universitas Andalas Limau Manis dan Hotel Santika Premiere, Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa 21-23 Oktober 2024.
Seminar nasional dan rapat kerja PPSI 2024 ini, dibuka langsung oleh Rektor Unand, Dr Eva Yonnedi yang diwakili oleh Wakil Rektor (WR) III Universitasa Andalas atau Unand Prof. Dr. Kurnia Warman, SH. M.Hum.
Turut hadir juga dalam pembukaan Seminar nasional dan rapat kerja PPSI 2024 di Convention Hall Universitas Andalas, Dekan FIB Unand Prof Dr Herwandi, Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbudristek Dr Restu Gunawan, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat Undri S.S. M.Si, Ketua PPSI Dr Zulqayyim M,Hum, dan para pimpinan Prodi Ilmu Sejarah dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia yang tergabung dalam PPSI.
Pada gelaran seminar nasional bertajuk "Dinamika Demokrasi & Politik Dinasti dalam Perspektif Sejarah" mengundang beberapa narasumber ternama.
Di antaranya Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia Yudi Latif PhD, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Airlangga Prof. Purnawan Basundoro, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas Prof. Dr. Phil Gusti Asnan.

Sementara itu, Rapat kerja PPSI diselenggarakan di Hotel Santika Premiere setelah seminar nasional.
Ketua PPSI Dr. Zulqayyim, M.Hum mengatakan rapat kerja ini bertujuan untuk memperkuat jaringan antar program studi sejarah di Indonesia.
Selain itu, imbuh Dr. Zulqayyim, rapat kerja ini untuk menyusun rencana kerja strategis serta mengembangkan studi sejarah di tanah air.
Kendati demikian, Kata Dr. Zulqaiyyim, M.Hum, ada bahasan penting dalam raker kali ini. Di antaranya pembentukan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) Kesejarahan, penyesuaian kurikulum, serta peningkatan kualitas penelitian sejarah.
"Pertemuan ini juga menjadi wadah bagi akademisi untuk bertukar gagasan terkait tantangan digitalisasi dan transformasi dalam pembelajaran sejarah," ujarnya.
Selain itu, imbuh Dr. Zulqaiyyim, M.Hum, para peserta raker juga membahas strategi kolaborasi dalam melestarikan warisan budaya bangsa dan peningkatan sinergi antara program studi sejarah di Indonesia.
"Acara ini diharapkan bisa mendorong sinergi serta kolaborasi antara program studi sejarah dari berbagai institusi pendidikan di Indonesia," tutup Dr. Zulqaiyyim, M.Hum. (*)
Page 1 of 3
Copyright © 2025 Departemen Ilmu Sejarah FIB UNAND
All Rights Reserved